Hidup adalah Ibadah

Posts Tagged ‘manusia

Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang paling egois di bumi  ini.Tak terbantahkan lagi. Segala bentuk keinginan duniawi bercampur dengan segala peluh nafsu mengejewantahkan bahwa manusia seharusnya mengatahui bahwa terdapat dunia lain setelah bagian dari kehidupan ini berakhir Kehidupan yang  mungkin bagi sebagian  manusia  hanya merupakan pemanis hidup bahwa  manusia harus berbuat kebaikan untuk mendapatkan harga itu.

Manusia ingin Kaya, ingin mendapatkan sesuatu yang cantik, ingin menjadi dikenal banyak, terbaik bagi dirinya

ketika surga menjadi tujuan hidup  manusia. Apakah segala bentuk keinginan duniawi  menjadi sesuatu yang berarti?

Eksistensi kah ? Tujuan Kah ?

Apakah sebenarnya mengejar  kedua bagian itu?

Jika surga adalah tujuan hidup manusia, sebegitu berarti kah semua hal yang berbau duniawi ini.

Badan  bercampur tanah, hilang mengenang dunia..

Menanti pengharapan hampa

Manusia-ku

Manusia evolusi dari Kera, Benarkah?

Sebagai seorang penganut agama islam tentu saya tidak sependapat dengan bahwa manusia merupak evolusi dari kera. Walupun para ahli telah banyak mendiskusikan hal ini tentu hal ini masih perlu diperbincangkan lebih lanjut. Manusia pertama adalah Adam, apakah adam itu kera?. Dengan pendapat yang dangkal sekalipun Adam itu adalah manusia bukan kera, itu telah tercantum di dalam Al-quran bahwa Adam adalah manusia pertama bukan kera pertama. Menurut saya itu adalah akal-akal dari seorang evolusionis walaupun itu hanya pemikiran subjektif saya. Akar pemikiran evolusionis muncul sezaman dengan keyakinan dogmatis yang berusaha keras mengingkari penciptaan. Mayoritas filsuf penganut pagan di zaman Yunani kuno mempertahankan gagasan evolusi. Jika kita mengamati sejarah filsafat, kita akan melihat bahwa gagasan evolusi telah menopang banyak filsafat pagan .

Teori evolusi merupakan buah filsafat materialistis yang muncul bersamaan dengan kebangkitan filsafat-filsafat materialistis kuno dan kemudian menyebar luas di abad ke-19. Paham materialisme berusaha menjelaskan alam semata melalui faktor-faktor materi. Karena menolak penciptaan, pandangan ini menyatakan bahwa segala sesuatu, hidup ataupun tak hidup, muncul tidak melalui penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian mencapai kondisi teratur. Akan tetapi, akal manusia sedemikian terstruktur sehingga mampu memahami keberadaan sebuah kehendak yang mengatur di mana pun ia menemukan keteraturan. Filsafat materialistis, yang bertentangan dengan karakteristik paling mendasar akal manusia ini, memunculkan “teori evolusi” di pertengahan abad ke-19.

Kebenaran teori evolusi juga masih perlu diperbincangkan akan tetapi hal itu justru menjadi sesuatu yang diterima secara umum saat ini. Buku pelajaran biologi di Indonesia masih saja memuat teori Darwin beserta seluruh kejelasan tentang kebenaran mengenai teori Darwin tersebut. Di satu sisi kita belajar tentang agama yang menyatakan bahwa manusia pertama adalah Adam, yang justru ada di bumi sebelum manusia kera versi Darwin ditemukan. Hipotesis Darwin tidak berdasarkan penemuan atau penelitian ilmiah apa pun; tetapi kemudian ia menjadikannya sebuah teori monumental berkat dukungan dan dorongan para ahli biologi materialis terkenal pada masanya. Gagasannya menyatakan bahwa individu-individu yang beradaptasi pada habitat mereka dengan cara terbaik, akan menurunkan sifat-sifat mereka kepada generasi berikutnya. Sifat-sifat yang menguntungkan ini lama-kelamaan terakumulasi dan mengubah suatu individu menjadi spesies yang sama sekali berbeda dengan nenek moyangnya. (Asal usul “sifat-sifat yang menguntungkan” ini belum diketahui pada waktu itu.) Menurut Darwin, manusia adalah hasil paling maju dari mekanisme ini.

Benarkah, Manusia itu dari kera? atau pada saat itu manusia hidup berdampingan dengan manusia kera?. Dalam bukunya The Descent of Man yang diterbitkannya setelah The Origin of Species, dengan berani Darwin berkomentar tentang “perbedaan-perbedaan besar antara manusia dari beragam ras”. Dalam bukunya tersebut, Darwin berpendapat bahwa orang-orang kulit hitam dan orang Aborigin Australia sama dengan gorila, dan berkesimpulan bahwa mereka lambat laun akan “disingkirkan” oleh “ras-ras beradab”. Ia berkata: Banyak argument yang justru timbul mengenai kebenaran dari teori evolusi Darwin itu sendiri. Jika saya membandingkan teori yang disampaikan oleh Darwin dengan apa yang saya pelajari di dalam agama saya, hal itu merupakan sesuatu yang anomali dan sangat bertolak belakang.

Ketika saya masih kecil, saya pernah mendengar cerita mengenai manusia yang dikutuk menjadi kera karna melanggar aturan. Pada zaman Nabi Musa A.S, terdapat larangan untuk tidak memancing pada hari Sabath ( hari Sabtu ) dan jika melanggar aturan tersebut akan mendapat hukuman dari Tuhan. Namun justru pada hari tersebutlah ikan-ikan akan keluar dari persembunyiannya dan jumlahnya jauh lebih banyak dari hari biasa. Sehingga, sebagian orang melanggar aturan tersebut untuk mendapatkan banyak ikan. Akan tetapi justru menjadi petaka bagi mereka dan mereka pun akhirnya terkena kutukan dari tuhan menjadi monyet. Mungkin saja monyet-monyet tersebut ada kaitannya dengan teori Darwin. Jika hipotesis Darwin tentang evolusi tersebut berkaitan dengan cerita kutukan manusia yang menjadi monyet pada zaman Nabi Musa A.S. Jelaslah sudah bahwa manusia itu tidak berasal dari kera tetapi manusia yang menjadi kera. Mungkin saja DNAnya sama. Hanya sebuah pemikiran sederhana. Itupun kalau benar.

Reff
• Harun Yahya : Keruntuhan Teori Evolusi
• Asumsi dan pendapat pribadi


Agustus 2017
S S R K J S M
« Agu    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Kategori

Arsip

Klik tertinggi

    Pengunjung

    • 82,349 hits
    My Daily Traffic Blog free counters