Hidup adalah Ibadah

Posts Tagged ‘Indonesia

Setelah menyelesaikan latihan gabungan di lautan Indonesia. Ketiga Jendral dari Amerika, Rusia, dan Indonesia minum bersama di sebuah bar sambil memuji keberanian para prajuritnya.

Jendral AS: Anda sekalian tahu betapa beraninya tentara kami. Anda mau bukti?

Lalu sang jendral memanggil salah seorang prajuritnya serta memerintahkan untuk terjun ke lautyang dingin tanpa pakaian.

Prajurit AS : Siap jendral, perintah dilaksanakan!

Jendral AS : Lihat! dalam cuaca dingin seperti ini aja anak buah saya berani menerima tantangan.

Jendral Rusia pun tidak mau kalah, ia segera memanggil prajuritnya.

Jendral Rusia : Sersan! Kamu terjun kelaut dan kembali kesini membawa ikan hiu!

Prajurit Rusia : Siap jendral, perintah dilaksanakan!

Prajurit Rusia segera terjun kelaut dan kembali membawa seekor ikan hiu.

Jendral Rusia : (Dengan bangga) Lihat! Anak buah saya lebih berani dibandingkan tentara Amerika.

Dengan setengah mabuk, jendral Indonesia pun berkata, “Ah! itu sih belum seberapa, coba lihat anak buah saya ini…”

Jendral Indonesia : Kopral! Sini!

Prajurit Indonesia : Siap jendral!

Jendral Indonesia : Kamu segera terjun ke laut dan bawa itu tentara amerika kesini!

Prajurit Indonesia : Siap Jendral! Perintah ditolak! Dingin!

Dengan sedikit kaget, Jendral Indonesia berkata, “Lihat, betapa beraninya tentara saya. Sama jendralnya sendiri aja berani, bagaimana dengan jendral dari negara lain?”

Jendral Amerika dan Rusia hanya manggut-manggut tanda setuju.

Lalu dengan santainya Jendral dari Indonesia itu menghisap cerutunya dan berlalu.. Rokok_du

Just for fun… Just For Laugh..

Nangis00 machinegun Nangis00
NB: Jika pasukan katak (red:Kopaska) turun . Kalimantan Utara bisa jadi milik kita. Ambalat harga MATI!!!
Iklan

Sistem Pemilihan Anggota Legislatif

Sejarah Pemilu Indonesia

Pemilihan umum Indonesia 1955 adalah pemilihan umum pertama di Indonesia dan diadakan pada tahun 1955. Pemilu ini sering dikatakan sebagai pemilu Indonesia yang demokratis. Pemilu ini bertujuan untuk memilih anggota-anggota DPR dan Konstituante. Jumlah kursi DPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante berjumlah 520 (dua kali lipat kursi DPR) ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat pemerintah. Pemilu 1955 tidak dilanjutkan sesuai jadwal pada lima tahun berikutnya, 1960. Hal ini dikarenakan pada 5 Juli 1959, dikeluarkan Dekrit Presiden yang membubarkan Konstituante dan pernyataan kembali ke UUD 1945. Seiring dengan ada perubahan situasi politik negara pada tahun 1965, akibat adanya isu dewan jendral dan aksi pemberontakan PKI maka terjadi suatu awal sebuah peralihan dari orde lama ke orde baru melalui sebuah supersemar yang sampai sekarang masih diperdebatkan keabsahannya.

Pemilu berikutnya diselenggarakan pada tahun 1971, tepatnya pada tanggal 5 Juli 1971. Pemilu ini adalah Pemilu pertama setelah orde baru, dan diikuti oleh 10 partai politik.Lima besar dalam Pemilu ini adalah Golongan Karya, Nahdlatul Ulama, Parmusi, Partai Nasional Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia. Pada tahun 1975, melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar, diadakanlah fusi (penggabungan) partai-partai politik, menjadi hanya dua partai politik (yaitu Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia) dan satu Golongan Karya.

Pemilu-Pemilu berikutnya dilangsungkan pada tahun 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Pemilu-Pemilu ini diselenggarakan dibawah pemerintahan Presiden Soeharto. Pemilu-pemilu ini seringkali disebut dengan Pemilu Orde Baru. Pemilu-pemilu tersebut kesemuanya dimenangkan oleh Golongan Karya. Bukanlah sebuah hal aneh memang dengan kemenangan Golkar yang sejatinya merupakan partai pemerintah yang mendukung kekuasaan Soeharto. Krisis keuangan dunia yang terjadi pada tahun 1997 mengakitbatkan maraknya aksi massa yang menuntut pemerintahan orde baru yang berakhir dengan pengunduran Soeharto dari Presiden Indonesia dan digantikan oleh BJ Habibie.

Setelah runtuhnya orde baru, Pemilu selanjutnya yaitu Pemilu 1999 dilangsungkan pada tahun 1999 (tepatnya pada tanggal 7 Juni 1999) di bawah pemerintahan Presiden BJ Habibie dan diikuti oleh 48 partai politik. Lima besar Pemilu 1999 adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Amanat Nasional. Walaupun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan meraih suara terbanyak (dengan perolehan suara sekitar 35 persen), yang diangkat menjadi presiden bukanlah calon dari partai itu, yaitu Megawati Soekarnoputri, melainkan dari Partai Kebangkitan Bangsa, yaitu Abdurrahman Wahid (Pada saat itu, Megawati hanya menjadi calon presiden). Hal ini dimungkinkan untuk terjadi karena Pemilu 1999 hanya bertujuan untuk memilih anggota MPR, DPR, dan DPRD, sementara pemilihan presiden dan wakilnya dilakukan oleh anggota MPR. Kepemimpinan Gus Dur pun tidak berlangsung lama, terkait dengan berbagai isu pemborosan uang negara melalui perjalanan dinas keluar negeri, kasus Buloggate dan Bruneigate yang akhirnya harus mundur setelah 2 kali mendapat memorandum MPR.

Lima tahun berselang dari tahun 1999 diadakan Pemilihan Umum Indonesia 2004 yang merupakan pemilu pertama yang memungkinkan rakyat untuk memilih presiden secara langsung, dan cara pemilihannya benar-benar berbeda dari pemilu sebelumnya. Pada pemilu ini, rakyat dapat memilih langsung presiden dan wakil presiden (sebelumnya presiden dan wakil presiden dipilih oleh MPR yang anggota-anggotanya dipilih melalui Presiden). Selain itu, pada pemilu ini pemilihan presiden dan wakil presiden tidak dilakukan secara terpisah (seperti pemilu 1999) — pada pemilu ini, yang dipilih adalah pasangan calon (pasangan calon presiden dan wakil presiden), bukan calon presiden dan calon wakil presiden secara terpisah dan pemilu 2009 pun memakai sistem yang sama seperti 2004. Perbedaan yang mendasar adalah adanya sistem perhitungan suara terbanyak dalam penetapan anggota legislatif bukan berdasarkan nomor urut partai pada saat pencontrengan selain itu cara pemilihannya juga dengan cara mencontreng bukan mencoblos.

Sejarah Pemilu Indonesia tak lepas dari konspirasi-konspirasi politik dalam sistem pelaksanaanya dan ini juga tak lepas dari pengaruh sejarah raja-raja yang pernah berkuasa di Indonesia. Hampir semua proses pergantian raja-raja di Indonesia dilakukan secara tidak baik dan benar bahkan menimbulkan pertumbahan darah seperti kisah raja-raja Singosari. Sejarah bangsa Indonesia inilah yang menimbulkan doktinisasi terhadap seluruh komponen bangsa Indonesia bahwa kekuasaan itu harus direbut dengan berbagai cara, jikapun cara itu salah, proses keberjalanan sejarah lah yang akan membenarkan cara yang salah itu. Ada pembenaran terhadap konsep sejarah bangsa ini.

Masyarakat Feodal dan Keterpaksaan Golput

Sejarah Pemilu dan Sejarah bangsa Indonesia erat korelasinya terhadap sistem pelaksanaan pemilu khususnya anggota legislatif. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat feodal. Kondisi pada masa feodalisme di Indonesia bisa diambil contoh pada masa kerajaan-kerajaan kuno macam Mataram kuno, Kediri, Singasari, Majapahit. Sekarang, bukan zaman raja-raja lagi, tetapi konsep feodalisme inilah yang masih menjadi doktrinsisasi terhadap bangsa Indonesia. Sudah berevolusi dan mendarah daging sehingga sulit memisahkan antara yang baik dan benar secara pikiran yang terbuka. Sejarah perjuangan ternyata tak bergerak maju. Tranformasi feodalisme sekarang lebih kearah dominasi kekuasaan.

Sistem demokrasi liberal yang berlaku saat ini telah menimbulkan raja-raja lokal yang memiliki kekuasaan pada daerah pemilihannya. Bukankah anda memiliki harta, uang dan jaringan sehingga anda harus maju sebagai bagian dari pemilihan itu. Rakyat sudah terbiasa akan hal-hal seperti itu sehingga susah menjadi lebih baik dan benar secara pikiran terbuka. Mungkin saja, butuh adanya pembantaian massal suatu generasi sehingga generasi yang akan datang tidak merasakan hal-hal yang sudah mendarah daging tersebut walaupun itu sebuah tradisi.

Proses rekrutmen caleg yang ada sama dengan rekrutmen tenaga kerja Indonesia (TKI) yang akan dikirim ke luar negeri. Sepertinya begitu mudah jadi caleg. Ada partai yang malah bikin iklan, rekrutmen terbuka, siapa yang mau jadi caleg boleh mendaftar. Ini kan sama saja kayak rekrutmen TKW yang mau dikirim ke Timur Tengah. Seharusnya merupakan kader yang sudah dipersiapkan secara matang oleh partai. Sisi positifnya sistem feodalis, Putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono, tak hanya mulus lolos ke Senayan. Putra bungsu SBY yang kerap dipanggil Ibas itu mengukuhkan diri sebagai caleg yang meraih suara terbanyak di antara seluruh caleg secara nasional. Berdasar hasil rekapitulasi KPU, Ibas memperoleh 327.097 suara. Di dapil Jatim VII (Ngawi, Pacitan, Magetan, Ponorogo, dan Trenggalek) . Secara nasional, perolehan suara terbanyak kedua diraih Puan Maharani, putri Presiden Ke-5 Megawati Soekarnoputri. Di daerah pemilihan Jawa Tengah V (Surakarta, Sukoharjo, Klaten, Boyolali), Puan memperoleh 242.054 suara. Sistem feodalisme pada zaman raja-raja bertransformasi pada pemilu calon anggota legislatif 2009 ini.

Bandingkan dengan hasil Pemilu 2004 yang juga menggunakan sistem suara terbanyak terbatas. Saat itu hanya Hidayat Nur Wahid dan Saleh Djasit yang berhasil menjadi anggota DPR dengan perolehan suara memenuhi BPP. Hidayat yang memperoleh 262.019 suara memiliki persentase 112, 8 persen dari BPP di dapilnya. Hidayat saat itu maju dari dapil DKI Jakarta. Sementara itu, Saleh Djasit mampu meraup 195.348 suara atau setara 104 persen dari BPP di dapilnya. Rekor Hidayat Nur Wahid kini dipecahkan Ibas Yudhoyono. Suatu hal yang luar biasa, seorang politikus senior yang juga Ketua MPR RI dikalahkan oleh seorang pemuda yang belum mempunyai integritas yang jelas. Membeli kucing dalam karung. Potensi hal-hal seperti inilah yang menyebabkan angka golput cukup tinggi. Dari data daftar suara golput, maka sejak era reformasi, jumlah masyarakat yang abstain atau golput meningkat pesat yakni 10.21% pada tahun 1999 menjadi lebih kurang 30% di tahun 2009. Angka golput 30% jauh melebihi angka partai Demokrat yang menduduki posisi pertama dalam survei yakni 20% suara dari (100%-30% golput). Tampaknya “Partai Golput” menang mutlak. Perlu dicatat, bahwa angka golput bukanlah semata-mata karena apatisme masyarakat, namun pada tahun 2009 ini angka golput tidak hanya saja masyarakat yang apatis, namun KPU dan Pemerintah secara tidak langsung membungkam hak suara rakyat untuk memilih.

Setidaknya ada 3 faktor utama meningkatnya Golput 2009 yakni

Teknis : Daftar Pemilih Tetap (DPT)

Salah satu tugas utama KPU dan Pemerintah adalah menyukseskan Pemilu 2009 seperti dalam amanat UUD 1945 serta UU 10 tahun 2008. Namun, ironisnya meski kita telah merdeka lebih 6 dekade dan telah menjalani reformasi lebih 10 tahun, masalah mekanisme pemungutan suara rakyat masih dipersulit oleh birokrasi. Banyak mahasiswa, buruh migran, dan warga pindahan yang seharusnya mendapat hak untuk memilih justru tidak difasilitasi dengan baik oleh KPU. Setidaknya lebih kurang 1 juta mahasiswa di perguruan tinggi, jutaan buruh migran beserta keluarganya di kota-kota, serta warga yang baru pindahan tidak dapat memilih karena dipersulit dalam mengurus DPT, seperti kartu A5. Hal ini pun dialami oleh saya. Begitu juga ada sekitar 5000-an mahasiswa Unpad, 7-10 ribu-an mahasiswa ITB, ribuan mahasiswa Maranatha, Parahyangan, Unpas, Unisba, Unjani, Itenas dan sejumlah mahasiswa perguruan tinggi di kota Bandung yang berasal dari luar kota Bandung. Seakan-akan KTP Nasional itu hanya berguna untuk identitas saja.

Sikap Apatis

Tidak sedikit masyarakat yang apatis terhadap golput Pemilu di negeri ini. Umumnya, masyarakat yang apatis adalah golongan masyarakat miskin atau perantaun. Hal ini dikarenakan siapapun partai yang menang, kehidupan mereka tidak berubah dan bahkan kehidupan mereka bertambah miskin atau dimiskinkan. Sehingga, golongan masyarakat ini lebih memilih bekerja daripada libur untuk contreng. Dan angka masyarakat apatis semakin tinggi, dikarenakan banyaknya politisi partai yang mementingkan kepentingan partainya daripada kepentingan masyarakat. Ketika menjelang Pemilu, para petinggi partai gencar menghabiskan puluhan bahkan ratusan miliar untuk iklan janji dan janji. Namun ketika berkuasa, mereka asyik menggeruk kebijakan yang menghasilkan keuntungan partai. Untuk mahasiswa rantau seperti saya, tentunya memilih orang yang tidak dikenal bukanlah hal yang penting dan mendesak.

Konsep Ideologis

Angka masyarakat yang golput dari ideologis tidak meningkat sepesat masyarakat apatis ataupun terkendala masalah teknis. Umumnya masyarakat golongan ideologis golput berasal dari kalangan cendekiawan level atas yang alasan sistem politik yang buruk hingga landasan religius. Kebobrokan dan skandal yang sering disiarkan media TV semakin menguatkan keyakinan ideologis masyarakat ini yang mengatakan “memilih partai berarti memilih keburukan, karena tidak ada partai yang baik dan benar”. Walaupun sebetulnya muncul fatwa haram yang terkesan politis bahwa golput itu haram. Namun, interpretasi dari pemaknaan haram itu sendiri sering salah kaprah. Haram itu dosa, dosa itu neraka, apakah tidak memilih akan masuk neraka? Tuhan punya pertimbangan yang lain untuk permasalahan ini.

Politik Itu Etis

Saya tidak kompeten untuk meyimpulkan bahwa sistem yang ada sekarang itu salah atau benar. Tidaklah mudah melakukan justifikasi dalam sebuah tulisan singkat. Tentu ada pembahasan mendalam mengenai suatu sistem yang ada. Suatu sistem akan mencari bentuk yang ideal yang telah disepakati oleh orang banyak. Sedikit apresiasi saya dalam sebuah pemikiran mengenai sistem pemilihan anggota legislatif bahwa politik itu etis, ada etika yang harus dijaga dan dipelihara dalam pelaksanaannya. Tradisi bukanlah hal yang mutlak harus dilaksanakan turun temurun. Nabi Muhammad SAW melaksnalkan Isra Miraj, suatu hal yang sulit diterima manusia pada saat itu. Sekarang, kita sudah bisa melihat bahkan menaiki pesawat terbang. Akankah kita berpikir seperti ribuan tahun yang lalu?

Proses trasnsisi inilah yang dibutuhkan agar nilai-nilai yang baik yang ada pada masa lalu dipertahankan dan yang tidak baik dihilangkan sehingga sistem yang ada menyeseuaikan dengan kebutuhan. Saya meminjam istilah dari Douwes Dekker dalam trias politicas “memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan (edukasi) “. Edukasi disini terkait pencerdasan masyarakat Indonesia akan sistem pemilihan anggota legislatif sehingga ada cara-cara penyampain aspirasi yang disesuaikan dengan sistem demokrasi yang berlaku. Jika masyarakat Indonesia sudah cerdas secara berpikir dan bertindak, tentunya dia dapat membedakan antara kewajiban dan hak nya sebagai warga negara dan itu juga tak lepas dari sistem yang berlaku. Masyarakat bisa saja bersikap apatis jika sistem yang berlaku tak lebih baik dari sebuah pembenaran pemilihan yang terkesan dipaksakan.

Kita hanya bisa mengajak masyarakat untuk memilih bukan memaksakan karna itulah intinya demokrasi ada pilihan-pilihan dalam keberlansungannya, salah satunya adalah berhak untuk tidak memilih. Jika sistem sudah ditetapkan, sudah sepantasnya sosialisasi dan komunikasi terhadap masyarakat ditingkatkan agar keberterimaan sistem tersebut menyeluruh. Sejarah perjuangan itu seharusnya bergerak maju, tidak terbatas kepada dogma-dogma lama yang dapat membelenggu pikiran dalam berpikir dan bertindak. Di satu sisi, solusi menjadi jawaban suatu permasalahan dan disisi lain menjadi awal dari sebuah permasalahan baru, paradigma.

Top 1000 blogger Indonesia

Top 1000 blogger Indonesia

tanggal 22 may 2009, 13.24…. waktu ngecek blog …sedikit senang bercampur haru….hahahaha

peringakat blog saya masuk 1000 besar blogger Indonesia,tepatnya 862 dari 8761

Your Blog’s Rank

“Hidup adalah Ibadah”
https://arishms.wordpress.com

is ranked

862 of 8761 blogs registered.

In comparison to other blogs:
858 Kesha and Freya’s SiteVisitor No:
859 Mantugaul’s Gaul Site
860 KreasiTha
861 I m o e t
862 Hidup adalah Ibadah
863 Ludvy’s Weblog | All About Profitable 4 U
864 The Blue always goes on !
865 .:: Arifin.WEB.ID ::.
866 mr.Pall dotcom
867 d4rkcell’s Techblog

Data Statistik Blog Saya

Tetap Semangat, Walaupun Ujian Baja Kacau ^^

Foto Aris 1

Budi Handuk vs Boediono

Nice Bro…Bukan pernyataan politik dari saya nih
pernyataan ini saya lihat beberapa hari yang lalu di sekitar daerah gerbang sipil ITB.
Dipajang dalam spanduk depan BNI Taman Sari dekat Kebun Binatang Bandung
Awalnya bingung, kok bisa ada sih tulisan kayak gini ?
Ternyata eh ternyata tgl 15/5/09 ada deklrasi pencalonan Presiden oleh SBY
wakilnya? isunya si Budiono dan Pernyataan itu mungkin bagian dari penolakan terhadap Budiono

Nih foto bukti di depan BNI Taman Sari

Say No to Boediono, Say Yes to Budi Handuk

Say No to Boediono, Say Yes to Budi Handuk

15/05/09 Kawasan Tubagus Ismail, tepatnya warung Sigli Jaya
SBY dan Budiono di daulat menjadi capres dan cawapres dengan jargon SBY BERBUDI……
apa coba…hahahaha…saya dan teman2 pun menambahkan jargon tersebut dengan istilah masing2

Buat pembaca, Isilah titik2 pada jargon tersebut dengan benar ^^

LINK Lainnya: Say No to BoedioNo, Say Yes Budi Anduk. Mengapa?

Sudah lama tidak membuat tulisan tentang travian, sejak server speed ditutup. Oh…ya, ada sedikit  info mengenai komunitas travian  indonesia via facebook. Silahkan  share aja di groupnya

I love TravianKlik : Travian Indonesian Community

Mau Ikutan Travian : Travian.co.id

ManoharaWanted

Tolong Selesaikan Kasus Ini Segera

Cukup Mewakili Permasalahan Bangsa Kita Di Negeri Orang

Kalau Istri Sultan Aja Nasibnya Ga Jelas, Apalagi TKI/TKW Kita

Say No to Kekerasan Dalam Rumah Tangga


1,000,000 KLIK untuk KEBEBASAN MANOHARA dan KEHORMATAN BANGSA INI !!!’s Wall

Anda tahu kenapa Indonesia BELUM SAMPAI menjadi negara maju ?

Karena rakyat Indonesia sejak dini sudah di doktrin dengan lagu-lagu yang tidak bermutu & mengandung serta mengajarkan banyak kesalahan, kekeliruan, kerancuan dan menurunkan motivasi…mari kita buktikan :

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Balonku ada 5 … rupa-rupa warnanya … merah, kuning, kelabu … merah muda dan biru … meletus balon hijau, dorrrr!!!”

Perhatikan warna-warna kelima balon tsb, kenapa tiba-tiba muncul warna hijau ?

Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 ! –

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Aku seorang kapiten …. mempunyai pedang panjang … kalo berjalan prok … prok … prok … aku seorang kapiten !”

Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi)
Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi :
“mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang) … kalo berjalan prok … prok … prok …”, nah, itu baru klop !
jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi :
“mempunyai pedang panjang … kalo berjalan ndul … gondal …. gandul …. atau srek …..srek … srek…” itu baru sesuai dgn kondisi pedang panjangnya !

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Bangun tidur ‘ku terus mandi … tidak lupa menggosok gigi ….. habis mandi ku tolong ibu … membersihkan tempat tidurku …”
Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur.
Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru.
Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang !

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Naik-naik ke puncak gunung … tinggi . . . tinggi sekali … kiri kanan ‘ku lihat saja … banyak pohon cemara ….”

Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi !
Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki
lalu jadi bingung dan nggak tahu mau berbuat apa, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, nggak maju-maju !

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Naik kereta api tut …. tut … tut … siapa hendak turut ke Bandung … Sby..bolehlah naik dengan naik percuma … ayo kawanku lekas naik … keretaku tak berhenti lama”

Nah, yg begini ini yg parah ! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa maunya naik KA gratis melulu.
Pantesan PJKA rugi terus !

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Di pucuk pohon cempaka … burung kutilang berbunyi … bersiul-siul sepanjang hari dg tak jemu-jemu … mengangguk-angguk sambil bernyanyi tri li li … li … li …….. li … li …”

Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak-anak akan realita yg sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit … cuit … cuit !
kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang (catatan: acara lagu
anak-anak dgn presenter agnes monica waktu dia masih kecil adalah Tra la la trili li!), bukan burung !

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Pok ame ame-ame … belalang kupu-kupu… siang makan nasi, kalo malam minum susu …”
Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi nggak pagi nggak malem ya minum susu !

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Nina bobo nina bobo oh nina bobo … kalau tidak bobo digigit nyamuk”

menurut psikolog : jadi sekian tahun anakanak indonesia diajak tidur dgn lagu yg penuh nada mengancam

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Bintang kecil di langit yg biru …”
(Bintang khan adanya malem, lah kalo malem emang warna langitnya biru ?)

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Ibu kita Kartini….harum namanya”
(Namanya Kartini atau Harum ?)

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Pada hari minggu … naik delman istimewa ‘ku duduk di muka”
(Nah, gak sopan khan..masa duduk di muka ??)

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~
“Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung di kebun kita …”
(kalo mau nanam jagung, ngapain dalam-dalam emang mo bikin sumur ?)

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~
‘Pelangi-pelangi alangkah indahmu,…. . pelukismu agung, siapa gerangan ?”
( kan udah tahu yang ngelukisnya si Agung, masih nanya siapa gerangan ?”

Semoga tawa anda menyejukkan dunia…
Cuma sekedar intermezzo.. . gak usah dipikirim secara serius… hahahahahahahaha. ..


Oktober 2017
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Kategori

Arsip

Pengunjung

  • 84,205 hits
My Daily Traffic Blog free counters